Arsip Blog

060205 Shalat Berjama'ah (5)

Ahad, 05 Pebruari 2006/06 Muharram 1427                  Brosur No. :1308/1348/IF



Makmum masbuq
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا جِئْتُمْ اِلىَ الصَّلاَةِ وَ نَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَلاَ تَعُدُّوْهَا شَيْئًا. وَ مَنْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلاَةَ. ابو داود 1: 236، رقم 893
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian datang untuk shalat sedang kami dalam keadaan sujud, maka bersujudlah kalian. Dan janganlah dihitung (satu rekaat). Dan barangsiapa mendapatkan satu rekaat, berarti ia mendapatkan shalat itu". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 236, no. 893].
عَنْ عَلِيّ بْنِ اَبِى طَالِبٍ وَ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالاَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا اَتَى اَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ وَ اْلاِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ اْلاِمَامُ. الترمذى 2: 51، رقم 588
Dari Ali bin Abu Thalib dan Mu'adz bin Jabal, mereka berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seseorang diantara kalian datang untuk shalat sedangkan imam dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia berbuat sebagaimana yang diperbuat imam". [HR. At-Tirmidzi juz 2, hal. 51, no. 588]
Keterangan :
Apabila kita menjadi makmum masbuq, maka hendaklah kita memperbuat sebagaimana yang diperbuat imam, misalnya : imam dalam keadaan sujud, setelah kita takbiratul ihram lalu sujud sebagaimana yang diperbuat imam, atau jika imam dalam keadaan ruku' maka setelah takbiratul ihram lalu kita ruku', tetapi yang demikian itu jangan dihitung satu rekaat. Kemudian setelah imam salam, kita berdiri untuk menyempurnakan rekaat yang ketinggalan tersebut.

Orang yang sudah shalat munfarid maupun jama'ah, boleh mengikuti shalat jama'ah lagi
عَنْ يَزِيْدَ بْنِ اْلاَسْوَدِ اَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص صَلاَةَ الصُّبْحِ. فَلَمَّا صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ لَمْ يُصَلّيَا فَدَعَا بِهِمَا فَجِيْءَ بِهِمَا تَرْعُدُ فَرَائِصُهُمَا فَقَالَ لَهُمَا: مَا مَنَعَكُمَا اَنْ تُصَلّيَا مَعَنَا؟ قَالاَ: قَدْ صَلَّيْنَا فِى رِحَالِنَا. قَالَ: فَلاَ تَفْعَلاَ اِذَا صَلَّيْتُمَا فِى رِحَالِكُمَا ثُمَّ اَدْرَكْتُمَا اْلاِمَامَ وَ لَمْ يُصَلّ فَصَلّيَا مَعَهُ فَاِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ. احمد و اللفظ له و الثلاثة و صححه ابن حبان و الترمذى، فى بلوغ المرام، رقم 428
Dari Yazid bin Al-Aswad, sesungguhnya ia pernah shalat Shubuh bersama Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah SAW selesai shalat,  beliau mengetahui ada dua orang yang tidak ikut shalat, maka beliau menyuruh untuk memanggil mereka, lalu mereka dibawa dalam keadaan gemetar daging rusuk mereka. Beliau bersabda : "Apa yang menghalangimu berdua shalat bersama kami ?" Mereka menjawab : "Kami sudah shalat ditempat kami !". Beliau bersabda : "Janganlah kalian berbuat demikian. Apabila kalian telah shalat di rumah kalian, lalu menemukan imam belum shalat, maka hendaklah kalian shalat bersamanya, karena yang demikian itu menjadi shalat sunat bagi kalian". [HR. Ahmad dan lafadh itu baginya, dan Tsalatsah, disahkan oleh Ibnu Hibban dan Tirmidzi, dalam Bulughul Maram hadits no. 428]
Memutus jama'ah lalu melanjutkannya dengan shalat munfarid
عَنْ جَابِرٍ قَالَ: كَانَ مُعَاذٌ يُصَلّى مَعَ النَّبِيّ ص ثُمَّ يَأْتِى فَيَؤُمُّ قَوْمَهُ، فَصَلَّى لَيْلَةً مَعَ النَّبِيّ ص اْلعِشَاءَ ثُمَّ اَتَى قَوْمَهُ فَاَمَّهُمْ فَافْتَتَحَ بِسُوْرَةِ اْلبَقَرَةِ فَانْحَرَفَ رَجُلٌ فَسَلَّمَ، ثُمَّ صَلَّى وَحْدَهُ وَ انْصَرَفَ، فَقَالُوْا لَهُ اَنَافَقْتَ يَا فُلاَنُ؟ قَالَ: لاَ، وَ اللهِ وََلآتِيَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص فَلاُخْبِرَنَّهُ. فَاَتَى رَسُوْلَ اللهِ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّا اَصْحَابُ نَوَاضِحَ نَعْمَلُ بِالنَّهَارِ وَ اِنَّ مُعَاذًا صَلَّى مَعَكَ اْلعِشَاءَ ثُمَّ اَتَى فَافْتَتَحَ بِسُوْرَةِ اْلبَقَرَةِ. فَاَقْبَلَ رَسُوْلُ اللهِ ص عَلَى مُعَاذٍ فَقَالَ: يَا مُعَاذُ اَفَتَّانٌ اَنْتَ؟ اِقْرَأْ بِكَذَا وَ اقْرَأْ بِكَذَا. مسلم
Dari Jabir, ia berkata : Adalah Muadz biasa shalat bersama Nabi SAW, kemudian datang lalu mengimami kaumnya (di kampung mereka). Maka pernah pada suatu malam ia shalat Isya bersama Nabi SAW lalu datang kepada kaumnya lalu mengimami mereka. Ia memulai dengan membaca surat Al-Baqarah. Maka ada salah seorang berpaling ~memutus shalatnya~ kemudian shalat sendirian, lalu pergi. Kemudian orang-orang berkata kepadanya, Apakah engkau menjadi munafiq hai Fulan !. Ia menjawab, Tidak, demi Allah ! Sungguh aku akan menghadap Rasulullah SAW dan kuceritakan hal ini. Kemudian ia datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, Ya, Rasulullah, sesungguhnya kami ini orang-orang pekerja, kami bekerja di siang hari, sesungguhnya Muadz setelah shalat Isya bersama tuan lalu ia datang (mengimami kami). Ia memulai dengan membaca surat Al-Baqarah. Lalu Rasulullah SAW berpaling kepada Muadz sambil bersabda, "Hai Mu'adz ! Apakah engkau hendak menjadi tukang penyusah ? Bacalah surat ini dan ini". [HSR. Muslim, Juz I hal 339]
Dan yang dimaksud "Bacalah surat ini dan ini" dalam hadits tersebut ialah sebagaimana Sabda Rasulullah SAW kepada Mu'adz sebagai berikut :
 اِذَا اَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ: بِالشَّمْسِ وَ ضُحَاهَا، وَ سَبّحِ اسْمَ رَبّكَ اْلاَعْلَى، وَ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبّكَ، وَ اللَّيْلِ اِذَا يَغْشَى. مسلم
"Apabila engkau mengimami orang banyak, bacalah : Wasy-syamsi wa dluhaahaa dan Sabbihisma rabbikal-a'laa dan Iqra' bismi rabbika dan Wallaili idzaa yaghsyaa". [HR Muslim juz 1, hal. 340]
Keterangan :
Dari hadits tersebut bisa difahami bahwa : Agama memberi kelonggaran bagi seseorang yang mempunyai keperluan yang penting dan mendesak untuk memutus dari jama'ah dan melaksanakan shalat sendirian melanjutkan kekurangannya apabila dirasanya imam berlebih-lebihan menurut pertimbangan agama dalam shalat tersebut, mungkin surat yang dibacanya terlalu panjang atau karena hal lain yang bersangkutan dengan shalat itu, misalnya :
Sang imam salah dalam rukun shalat; yang seharusnya ia berdiri untuk rakaat yang terakhir pada shalat yang empat rakaat, tetapi ia duduk untuk tasyahhud akhir karena lupa dan walaupun telah diperingatkan dengan ucapan "subhaanallooh" (bila makmumnya laki-laki) atau dengan bertepuk tangan (kalau makmumnya wanita), namun ia tetap duduk. Maka bila terjadi demikian, makmum boleh memilih apakah ia memutus dari shalat jama'ah itu dan melanjutkan sendiri atau duduk mengikuti imam dan setelah imam salam ia melanjutkan kekurangan yang satu rakaat tersebut.
Atau bila imam tidak tertib dalam menjalankan shalatnya, misalnya ; terlalu cepat dalam tiap-tiap bacaan maupun perubahan dari rukun ke rukun sehingga menghilangkan kekhusyu'an dan thuma'ninah shalat tersebut, maka makmum diperkenankan untuk memutus dari jamaah lalu shalat sendiri dengan baik.
Membaca Al-Fatihah di belakang imam yang membaca jahr.
Tentang Ma'mum wajib membaca Al-Fatihah atau tidak, apabila Imam membaca dengan jahr, disini ulama' berbeda pendapat. Masing-masing mempunyai alasan yang secara ringkas sebagai berikut :
1. Golongan pertama, berpendapat bahwa Makmum wajib membaca Al-Fatihah di belakang imam, sekalipun imamnya membaca jahr dengan alasan sebagai berikut :
عَنْ عُبَادَةَ قَالَ: صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ ص الصُّبْحَ فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ اْلقِرَاءَةُ. فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: اِنّى اَرَاكُمْ تَقْرَءُوْنَ وَرَاءَ اِمَامِكُمْ؟ قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِيْ وَ اللهِ! قَالَ: لاَ تَفْعَلُوْا اِلاَّ بِاُمّ اْلقُرْآنِ فَاِنَّهُ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْبِهَا. ابو داود و الترمذى، فى نيل الاوطار
Dari 'Ubadah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah shalat Shubuh, tiba-tiba bacaan beliau menjadi berat (karena terganggu). Maka setelah selesai, Rasulullah SAW bersabda, "Saya merasa bahwa kalian membaca di belakang Imam kalian ?". 'Ubadah berkata : Kami menjawab, "Demi Allah, betul ! Ya Rasulullah". Beliau bersabda, "Janganlah kalian berbuat demikian, kecuali Ummul Qur'an (Al-Fatihah). Karena sesungguhnya tidak sah shalat orang yang tidak membacanya". [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 243]
عَنْ عُبَادَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: لاَ يَقْرَأَنَّ اَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ اِذَا جَهَرْتُ بِاْلقِرَاءَةِ اِلاَّ بِاُمّ اْلقُرْآنِ. الدارقطنى و قال رجاله كلهم ثقات، فى نيل الاوطار
Dari 'Ubadah ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW bersabda, "Janganlah seseorang diantara kalian membaca sesuatu dari Al-Qur'an apabila aku membaca dengan jahr, kecuali Ummul Qur'an". [HR. Daruquthni, ia berkata, "Sanadnya semuanya dapat dipercaya", dalam Nailul Authar juz 2, hal. 243]
2. Golongan kedua berpendapat, bahwa Makmum wajib mendengarkan bacaan Imam, berdasar firman Allah dan hadits-hadits Nabi SAW.
Firman Allah SWT :
وَ اِذَا قُرِئَ اْلقُرْانُ فَاسْتَمِعُوْا لَه وَ اَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. الاعراف:204
Dan apabila dibacakan Al-Qur'an hendaklah kamu mendengarkannya serta diam (memperhatikan), supaya kamu diberi rahmat. [Al-A'raf : 204]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِنَّمَا جُعِلَ اْلاِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ. فَاِذَا كَبَّرَ فَكَبّرُوْا وَ اِذَا قَرَأَ فَاَنْصِتُوْا. الخمسة الا الترمذى و قال مسلم: هو صحيح، فى نيل الاوطار
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Hanyasanya imam itu dijadikan untuk diturut, jika dia bertakbir maka bertakbirlah dan jika dia membaca (Al-Qur'an) maka diam dan perhatikanlah". [HR. Khamsah kecuali Tirmidzi, Muslim berkata, "Hadits itu Shahih", Nailul Authar Juz II hal 240]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص انْصَرَفَ مِنْ صَلاَةٍ جَهَرَ فِيْهَا بِاْلقِرَاءَةِ. فَقَالَ: هَلْ قَرَأَ مَعِى اَحَدٌ مِنْكُمْ آنِفًا؟ فَقَالَ رَجُلٌ: نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: فَاِنّى اَقُوْلُ مَالِى اُنَازَعُ اْلقُرْآنَ؟ قَالَ: فَانْتَهَى النَّاسُ عَنِ اْلقِرَاءَةِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فِيْمَا يَجْهَرُ فِيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص بِاْلقِرَاءَةِ مِنَ الصَّلَوَاتِ بِاْلقِرَاءَةِ حِيْنَ سَمِعُوْا ذلِكَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص. ابو داود و النسائى و الترمذى و قال: حديث حسن، فى نيل الاوطار
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Sesungguhnya pernah Rasulullah SAW setelah selesai dari satu shalat yang beliau baca dengan jahr (nyaring), lalu beliau bersabda, "Apakah tadi diantara kalian ada yang membaca bersama-sama aku ?". Maka ada seorang laki-laki menjawab, "Saya, ya Rasulullah". Rasulullah SAW bersabda, "Aku mau bertanya, mengapa aku dilawan dalam membaca Al-Qur'an ?". Abu Hurairah berkata, "Sesudah itu orang-orang berhenti dari membaca bersama Rasulullah SAW diwaktu shalat yang Rasulullah membacanya dengan jahr (nyaring) setelah mereka mendengar yang demikian itu dari Rasulullah SAW".[HR. Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi, dan ia berkata, "Ini hadits Hasan". Dalam Nailul Authar juz 2, hal. 242]
3. Golongan ketiga berpendapat, bahwa Makmum tidak boleh membaca apapun termasuk Al-Fatihah dibelakang seorang Imam, baik Imamnya membaca jahr maupun sir; karena menurut pendapat mereka bacaan Imam adalah bacaan Makmumnya pula , maka dengan Imam membaca itu sudah mencakup bagi seluruh Makmumnya. Dengan alasan sebagai berikut :
اِنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: مَنْ كَانَ لَهُ اِمَامٌ فَقِرَاءَةُ اْلاِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ. احمد و الدارقطنى عن عبد الله بن شداد
Sesungguhnya Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa (shalat) bersama Imam maka bacaan Imam itu jadi bacaan baginya". [HR. Ahmad dan Daruquthni dari Abdullah bin Syaddad]
كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ وَرَاءَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَجَعَلَ رَجُلٌ يُوْمِئُ اِلَيْهِ اَنْ لاَ يَقْرَأَ فَلَمَّا قَضَى رَسُوْلُ اللهِ ص قَالَ لَهُ الرَّجُلُ: مَا لَكَ تَقْرَأُ خَلْفَ اْلاِمَامِ؟ فَقَالَ: مَالَكَ تَنْهَانِى اَنْ اَقْرَأَ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا كَانَ لَكَ اِمَامٌ فَاِنَّ قِرَاءَتَهُ لَكَ قِرَاءَةٌ. الخلال عن عبد الله بن شداد
Seorang laki-laki pernah membaca di belakang Rasulullah SAW maka seorang laki-laki (lain) memberi isyarat kepadanya supaya dia tidak membaca. (Orang itu tidak menurut), dan tetap membaca. Setelah Rasulullah SAW selesai (salam), maka laki-laki itu berkata kepada orang tersebut, "Mengapa engkau membaca di belakang Imam ?". Ia menjawab, "Mengapa engkau melarang aku membaca ?". Maka Rasulullah SAW bersabda, "Apabila engkau mengikuti imam, maka sesungguhnya bacaan Imam itu menjadi bacaan bagimu". [HR. Al-Khallal dari Abdullah bin Syaddad]
Keterangan :
Pengarang Al-Muntaqa berkata, "Hadits riwayat Ibnu Syaddad (yang dijadikan hujjah golongan ketiga) itu telah diriwayatkan juga dengan tidak putus sanadnya dari beberapa jalan yang semuanya lemah. 
Demikianlah tentang membaca Al-Fatihah di belakang Imam yang membaca dengan jahr.
Adapun kami condong kepada pendapat golongan kedua, yaitu : Bahwa seorang Makmum dibelakang Imam yang membaca dengan jahr (nyaring) maka ia wajib diam dan memperhatikan bacaan imam tersebut, sebagaimana keterangan di atas.
Adapun hadits-hadits yang menjelaskan tidak sah shalat kecuali dengan membaca Al-Fatihah, itu maksudnya ialah :
1.   Bagi Imam, baik ia membaca jahr atau sir.
2.  Bagi Makmum yang Imamnya membaca dengan sir atau meskipun jahr tetapi tidak mendengar (misalnya sebab tempatnya terlalu jauh).
3.   Bagi orang yang shalat Munfarid (sendirian).
thumbnail
Entry title: 060205 Shalat Berjama'ah (5)
Rating: 100%
votes: 99998 ratings. 5 user reviews.
Reviewer: Fadjar Stempel
Item Reviewed: 060205 Shalat Berjama'ah (5)